Langsung ke konten utama

Untuk apa hidup ini?

Yup... Memang pertanyaan yang mudah dan begitu mudah kita untuk menjawabnya. Entah itu kemauan atau tujuan awal dari sejak kecil. Ternyata saat kita kecil kita sering ditanya oleh orang,

"Kamu cita-citanya mau jadi apa?" dan kita menjawabnya

"Saya mau jadi dokter",

"Aku kepingin jadi polisi".

Semua kepingin jadi orang yang hebat, walaupun mereka tidak tahu apa itu dokter maupun polisi. Tentunya saat perjalanan hidup kita sering mengejar angan-angan kita untuk mencapai cita-cita yang kita impikan dari dulu. Disepanjang perjalanan dari kecil sampai mendekat kematian, mungkin terbesit hati kita dan bertanya-tanya, "Untuk apa hidup ini?" Banyak suka dan duka telah kita lewati dalam kehidupan untuk mengartikan itu. Jawaban yang sering muncul yaitu:

"Masa bodolah dengan semua itu, yang penting saya jalani hidup ini apa adanya",

"Wah saya sudah tahu hidup saya untuk apa, sedikit lagi saya akan mencapainya".

Atau mungkin ada lagi jawaban yang lebih baik dari itu.



Suatu waktu saya diberikan buku tentang motivasi hidup, memberikan gambaran secara sedehana mengenai hidup ini.

Umur 0-20 = saat belajar, bermain dan sebagainya

Umur 21-60 = waktu bekerja, berkeluarga dan sebagainya

umur 60-*=ketika menjalani pensiunan dan mempersiapkan kematian kita sebaik mungkin.

Mungkin untuk saat ini lebih banya orang menjalani dengan tiga tahap kehidupan seperti ini.



Disisi lain mungkin ada saja dari kita mengartikan hidup ini sangan sederhana dan begitu rumit bagi orang lain. Ini dikarenakan perasaan mereka yang memberikan kesan berbeda bagi setiap peristiwa yang mereka alami. Orang yang senang santai, kalau diberikan kesibukan yang teramat akan mengganggunya begitu juga sebaliknya. Dan seolah-olah hidup ini sangat menyulitkan dan begitu susah menjalaninya.



Memang banyak juga menjalani hidup ini dengan mengejar sesuatu yang ingin didapatkannya. Saat kita contohkan dengan membeli barang-barang, kita akan selalu dipacu dengan barang-barang baru yang semakin baru semakin baik dan canggih, sehingga kita berlomba-lomba mendapatkan dengan nantinya kepuasan hati ketika kita bisa mengikutinya. Pernahkan kita untuk menyelesaikan semuanya ketika sedang kita suka-sukanya, tentunya itu akan sangat sullit sekali.



Kalau kita berpikir bahwa menjalai kehidupan ini dengan harta benda, memang tidak ada yang menyalahkan. Tapi banyak orang terkadang tidak sependapat dengan semua itu. Entah mereka masih kekurangan ataupun mereka tidak suka pamer. Sepiritual juga menjadi pilihan yang mungkin tepat dan karena berbagai pertimbangan keperluan menjalaninya memerlukan biaya, jadi begitu tersendatnya perjalanan ini. memungkinkan sekali ketika semua orang memiliki satu gagasan untuk menjalaninya entah dengan harta atau sepirit yang begitu bergelora. Tapi bukankan semua orang memiliki perbedaan pemikiran, jadi memang memerlukan kerja yang keras juga untuk itu.



Suatu celah lagi dari sebagian orang bahwa hidup ini hanya mengulang kehidupan sebelumnya. kehidupan ini hanya putaran watu saja, ya nikmati saja suka dukanya.



Semua itu tidak akan bisa menjawab, untuk apa kita hidup?

Jadi kalau mau mencari jawabannya carilah mulai sekarang





(*Maaf kalau tulisan ini sedikit agak susah dimengerti.)

catatan 13 April 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ray peni - gelas di lemari

gelas di lemari
ray peni


suryanē ngendih asibak ditu duur langitē
mekada samar-samar cingak beli ragan adi
sekadi mejalan sandikalanē
saru muan adinē to mekada keneh belinē ragu

yan tolih uli kenyeman adinē tusing tulus
rasayang adi suba ada anē ngelahang
kēwala sing taēn adi nyambatang
beli merasa-rasa adi ngangon adi pecadang kuang

reff***
to nguda adi dadi hati
naduang tresna kaping beli
tumuli dēwēk beli sekadi gelas di lemari
yēn kuangan ditu mara iya kesisi

(duduu.. wo ho dududu... yehe)

oh my lovelyevery nihgt when i sleep, u always came in my dream
i treat remmember with u prommise
u ever say that u love, you heart and u soul just for me
exe me excetid
but now why...why... why keep u love u numb men
why you forget with you prommise
what is my wrong u make a broake my heart baby
i hate u i hate you never know all i love u

(ampurayang yening pelih)

Mabiasa di Bukit Gumang

Yup... Mabiasa yang dilaksanakan di puncak Bukit Gumang, Karangasem, Bali. Tradisi ini berlangsung dalam upacara Ngusaba Gumang dilaksanakan masyarakat di seputaran daerah tersebut seperti, Bugbug, Jasri, Bebandem dan Ngis Manggis. Menjelang sore hari masyarakat mulai memadati untuk naik ke Bukit Gumang. Mereka biasanya membawa haturan berupa babi guling, mereka yang mempunyai anak kecil. Dengan pemandangan yang sangat indah dari atas bukit, jempana-jempana dari masing-masing desa mulai naik bukit satu per satu. Setelah semua berkumpul di atas, acara berlangsung. Beberapa jempana (tandu) mulai diadu dan terjadi saling dorong. Setelah beberapa saat acara selesai, jempana-jempana pun diletakan di panggungan di tengah areal yang disediakan.


Jempana-jempana mulai menaiki bukit ketika suasana mulai sore.


Masyarakat yang berduyun-duyun naik ke bukit untuk melaksanakan persembahyangan.


Terliha di kejauhan jempana-jempana dari desa mulai naik ke bukit.


Perang jempana dimulai saat suasana huja…

Mitos yang Menjadi Kearifan Lokal Bali

Yup... Begitu banyak mitos yang sudah menjadi kearifan lokal di Bali. Tentunya beberapa daerah di Bali memilikinya, begitu banyak, berbeda tapi memiliki kemiripan di beberapa sisinya. Ini sangat dipercaya sebagai acuan untuk berbuat agar perjalanan kehidupan bisa lancar tanpa halangan. Juga lebih bersifat memberikan keuntungan dan kemujuran bagi yang mau taat melakukanya, menghidarkan diri dari malapetaka.



Enta karena kurangnya wawasan mengenai mitos ini, kebanyakan orang enggan untuk mempercayainya kalau belum mereka mengalaminya sendiri. Semisal kesakitan menahun atau sebagainya dan dapat disembuhkan dengan cara yang tidak masuk akal. Atau karena memang ketidaktahuan.



Banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan menjadikan mitos ini mulai terkubur. Mereka yang merasa diri lebih moderen menganggap itu sebagai hal yang kuno dan tidak ada nilai kebenarannya. Tapi bukankah sebaliknya pendidikan sebenarnya yang harusnya memecahkan hal ini secara ilmiah. Bukan malah memojokkan hal yang …