Langsung ke konten utama

Satu Kata Banyak Makna

Yup... Salah mengartikan tentunya akan berdampak beda bagi yang mendengarkan. Begitu juga dengan kata-kata yang di dengar setiap hari. Dalam Bahasa Bali juga dikenal dengan kerangkapan arti dalam satu kata. Hal ini lebih dikenal dengan istilah Homonim. Homonim merupakan penulisan dan pengucapan yang sama tetapi dengan arti yang berbeda. Abigu dalam memaknai kata akan membuat kesalahan yang mungkin berakibat fatal.



Di bawah ini ada beberapa contoh kata-kata dalam bahasa Bali yang terkadang menimbulkan berbagai arti tergantung dengan kalimat pengikut, situasi maupun daerahnya :



1 Adéng = taluh = lambat/pelan

2 Aji = Ayah = berapa

3 Alas = tatakan = bet (hutan)

4 Ambeng = daun ilalang = halangan/hambatan

5 Ambu = awan = mabo

6 Arah = sing nyak = matan angin

7 Asta = 8 = ukuran

8 Bajang-bajang = sekaa truni = rumput

9 Barong = tapakan ida sesuhunan = bersama-sama (logat nusa penida)

10 Basa = bumbu masakan = bahasa

11 Bataran = Tuhan = teras, amben

12 Bélék = lembut/tidak keras = basah kuyup

13 Bisa = racun = mampu

14 Buku = tiing =kertas

15 Bunga = sekar = bungan bank

16 Carik = sawah = bagian dari Aksara Bali

17 Cecek = Cicak = bagian dari Aksara Bali

18 Duur = Kepala = atas

19 Guung = Sangkar = bagian dari Aksara Bali

20 Jalan mula = Ngajakin memula tanaman = Jalan ane mula ada

21 Jan = tangga = sajan

22 Kaberatan = bes baat = ke danau beratan

23 Kapetengan = malam = engsap

24 Kasiangan = tengai = ke Siangan Gianyar

25 Léneng = berbeda = tempat duduk di jalan

26 Lima = 5 (jumlah) = tangan.

27 Lingga = tongos = dasar

28 Luh-luh = wanita-wanita = adonan semen

29 Malali = jalan-jalan = memegang

30 Mambah = madadong = mengalir

31 Maseselan = Nyesel = panyegseg

32 Meligedang = numas gedang = melilit

33 Nguda = muda = sedang apa

34 Pagi = semengan = adan desa di Penebel

35 Panci= alat masak = paha

36 Rai = adik = mata pisau

37 Raka = kakak = buah untuk sajen

38 Sédané = Meninggal = mobil

39 Soréné = daun = sanja

40 Susut = bersihkan = nama desa di Bangli

41 Tapé = mobil = jajan

42 Tiang = Saya = alat penyangga kabel listrik

43 Toké = buron = tulen

44 Uli= jaja=asal.

45 Yéh = air = selaan



catatan 26 Oktober 2013, survei FB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ray peni - gelas di lemari

gelas di lemari
ray peni


suryanē ngendih asibak ditu duur langitē
mekada samar-samar cingak beli ragan adi
sekadi mejalan sandikalanē
saru muan adinē to mekada keneh belinē ragu

yan tolih uli kenyeman adinē tusing tulus
rasayang adi suba ada anē ngelahang
kēwala sing taēn adi nyambatang
beli merasa-rasa adi ngangon adi pecadang kuang

reff***
to nguda adi dadi hati
naduang tresna kaping beli
tumuli dēwēk beli sekadi gelas di lemari
yēn kuangan ditu mara iya kesisi

(duduu.. wo ho dududu... yehe)

oh my lovelyevery nihgt when i sleep, u always came in my dream
i treat remmember with u prommise
u ever say that u love, you heart and u soul just for me
exe me excetid
but now why...why... why keep u love u numb men
why you forget with you prommise
what is my wrong u make a broake my heart baby
i hate u i hate you never know all i love u

(ampurayang yening pelih)

Mabiasa di Bukit Gumang

Yup... Mabiasa yang dilaksanakan di puncak Bukit Gumang, Karangasem, Bali. Tradisi ini berlangsung dalam upacara Ngusaba Gumang dilaksanakan masyarakat di seputaran daerah tersebut seperti, Bugbug, Jasri, Bebandem dan Ngis Manggis. Menjelang sore hari masyarakat mulai memadati untuk naik ke Bukit Gumang. Mereka biasanya membawa haturan berupa babi guling, mereka yang mempunyai anak kecil. Dengan pemandangan yang sangat indah dari atas bukit, jempana-jempana dari masing-masing desa mulai naik bukit satu per satu. Setelah semua berkumpul di atas, acara berlangsung. Beberapa jempana (tandu) mulai diadu dan terjadi saling dorong. Setelah beberapa saat acara selesai, jempana-jempana pun diletakan di panggungan di tengah areal yang disediakan.


Jempana-jempana mulai menaiki bukit ketika suasana mulai sore.


Masyarakat yang berduyun-duyun naik ke bukit untuk melaksanakan persembahyangan.


Terliha di kejauhan jempana-jempana dari desa mulai naik ke bukit.


Perang jempana dimulai saat suasana huja…

Mitos yang Menjadi Kearifan Lokal Bali

Yup... Begitu banyak mitos yang sudah menjadi kearifan lokal di Bali. Tentunya beberapa daerah di Bali memilikinya, begitu banyak, berbeda tapi memiliki kemiripan di beberapa sisinya. Ini sangat dipercaya sebagai acuan untuk berbuat agar perjalanan kehidupan bisa lancar tanpa halangan. Juga lebih bersifat memberikan keuntungan dan kemujuran bagi yang mau taat melakukanya, menghidarkan diri dari malapetaka.



Enta karena kurangnya wawasan mengenai mitos ini, kebanyakan orang enggan untuk mempercayainya kalau belum mereka mengalaminya sendiri. Semisal kesakitan menahun atau sebagainya dan dapat disembuhkan dengan cara yang tidak masuk akal. Atau karena memang ketidaktahuan.



Banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan menjadikan mitos ini mulai terkubur. Mereka yang merasa diri lebih moderen menganggap itu sebagai hal yang kuno dan tidak ada nilai kebenarannya. Tapi bukankah sebaliknya pendidikan sebenarnya yang harusnya memecahkan hal ini secara ilmiah. Bukan malah memojokkan hal yang …