Pentas Tari-tari Bali

Yup... Menyaksikan pentas tarian Bali di Denpasar, Bali pada 28 Februari 2015.


Tari Sekar Jagat

Penari sekar jagat biasanya mengenaan mahkota bunga emas yang berbentuk krucut di bagian depan. Dari segi pakian juga terlihat dandanan gadis Bali zaman dulu karena masih terlihatnya bahu penari masih terbuka. Penutup badan hanya sampai di atas dada dengan hiasan di leher serupa badong. Di kedu tangan juga terlihat adanya gelang emas dan juga subeng di kuping. Yang menguatkan penari membawa bunga kertas yang dirangkai dengan janur di atas dulang kecil. Dengan kain yang diikatkan dengan sabuk besar juga terdapat selendang di depan.

Tari Sekar Jagat identik dengan tari yang lemah gemulai, diperuntukan untuk penyambutan. Terkesan tarian ini lebih aktif dengan satu gerakan tangan saja, karena tangan satunya memegang rangkaian bunga yang selalu dibawa. Mimik wajah yang kebanyakan senyum dari awal pentas sampai akhir menjadikan tontonan yang asik untuk dinikmati. Tarian ini biasanya dibawakan secara berkelompok oleh gadis-gadis, mereka sering membuat formasi sehingga lebih manis untuk ditampilkan.

Tarian ini biasanya ditampilkan dalam acara-acara formal sebagai pendahuluan. Lebih sering juga diadakan dalam acara pentas seni dan tontonan mengisi upacara di pura ataupun kegiatan sekolah.

Dari asal katanya sekar dan jagat mengandung arti, sekar yaitu bunga sedangkan jagat berarti alam semesta. Kemungkinan dimaksudkan keharuman bunga di seluruh nusantara. Tidak hanya bunga tapi juga kecantikan dan gerak tari yang diiringi gambelanya.



Tari Tenun

Busana dari tarian ini lebih sederhana layaknya seorang gadis desa yang jauh dari kemewahan. Dengan busana lelunakan, pakaian dan juga kain yang cukup sederhana. Tapi dengan kemajuan sekarang ini biasanya juga ditambahkan dengan asesoris rambut dan kepala disimpakan bunga emas. Sabuk yang melilit di badan terasa kehidupan wanita Bali ditambah dengan sanggul rambut dan juga asesoris subeng di kuping. Di dada juga tampak colekan beberapa titik pamor, konon ini sebaga pertanda supaya tidak diganggu secara gaib disamping juga sebagai penangkal alergi karena banyak bekerja dengan kapas atau pun benang.

Tarian ini biasanya ditarikan oleh beberapa orang gadis atau tidak jarang juga tunggal. Gerak-gerak tari ini menampilkan si gadis yang sedang menenun. Mulai dari memintal benang, memasang benang di alat tenun pempersiapkan alat tenun dan sampai menenun untuk menghasilkan kain tenun yang berkwalitas baik. Dalam aksinya menenun ini penari selalu aktif terkadang berdiri layaknya memperbaiki benang, juga tampak bersimpuh untuk meneliti benang yang masuk ke alat tenun. Yang paling terlihat ketika penari bersimpuh tetapi terus bergerak, mungkin hal yang cukup sulit dilakukan oleh penari-penari yang belum terlatih. Terlihat sambil bersimpuh serong kiri-serong kanan dan juga bandan tegak dilakukan beberapa kali.

Dalam pentas seni setiap daerah di Bali tari ini sering sekali ditampilkan. Mungkin karena banyak yang tertarik karena dalam busana tidak terlalu mahal dan juga geraknya yang lebih mudah. Tari tradisi ini sampai saat ini masih tetap lestari tak terlepas dari sanggar-sanggar yang ada untuk selalu mengajarkan seni tari ini kepada murid-muridnya.

Kalau dilihat dalam kenyataanya kegiatan menenun sekarang mungkin sangat jarang dijumpai di Bali. Tidak sebanyak Tari Tenun yang ada, para pengerajin kain tenun dan kain endek ini sudah mulai banyak meninggalkan pekerjaanya konon karena penghasilanya tidak mencukupi mereka banyak beralaih ke profesi yang lain.



Tari Pendet

Para penari berpakian cukup unik. Dengan hiasan bunga dan emas di rambut serta membawa nampan kecil yang berisi rangkaian janur dengan isi beraneka bunga. Dari segi pakaian ini masik terlihat gadis Bali zaman dahulu. Masih mneggunakan sabuk dan pundak masih belum tertutup oleh pakaian hanya sabuk yang diselempangkan di salah satu pundaknya. Beberapa daerah menggunakan busana agak berbeda mulai dari prada emas yang masik minim dan juga full prada.

Tarian ini dibawakan gadis-gadis dengan lembah gemulai. Tarian penyambutan tamu ini tidak begitu beringas, tapi sangat sayu penuh dengan senyum. Pada saat berdiri maupun bersimpuh sesekali mengedipkan mata dan melemparkan bunga-bunga yang dibawakanya. Pada masanya sekarang tidak hanya para remaja yang menarikan Tari Pendet ini tetapi tidak kalah anak-anak dan para ibu-ibu juga berperan aktif. Tarian diiringi dengan tabuh gong yang agak lambat.

Tarii ini biasa tampil saat para tamu mulai berdatangan. Kerap kali tarian ini ditampilkan untuk menyambut tamu penting dan juga yang bergerak di pariwisata akan sering menjumpai tarian ini. Tak dipungkiri kelestarian ini juga didukung seringnya tampil saat acara-acara besar yang bersifat internasional ada di Bali. Tapi tidak hanya hal tersebut, kesenangan dan kecintaan warga untuk tetap belajar dari kecil sebagai salah satu upaya melestarikannya.

Konon tarian ini terinsfirasi dari Tari Pendet yang sering ditarikan di pura-pura. Tarian sakral ini memang ada sejak dahulu. Biasanya tarian pendet di pura ditarikan secara idak sadar (kesurupan). Diperlukan beberapa upakara ataupun sesajen sebelum tarian dimulai. Terkadang mereka langsung sentak bisa menari walaupun keseharianya tidak pernah menari. Inspirai ini membuat dibuatkan tari pendet untuk pertunjukan.


Tari Gopala

Tari Gopala menceritakan para pengembala sapi yang riang gembira bermain di ladang. Mereka bermain-main bersama teman-temanya. Saling menari, berlari dan saling kejar-kejaran sambil mengawasi sapi-sapinya yang sedang makan. Sambil menunggu sore, akhirnya mereka pun kembali pulang.


Tari Sundaram

Tari Bali ini ditarikan oleh gadis secara tunggal atapub berkelompok. Dengan gerak-gerak tarian Bali yang khas, memperlihatkan kecantikan dan gerak gemulai. Lebih terlihat gerak di bagian tubuh seperti tanggan dan pinggul penari.

Konon Tari Sundaram ini mengandung makna keindahan dan keharmonisan. Dari penari memepertunjukan Keindahan dan kepandaian memikat para penonton untuk menyaksikan tarian ini. Tarian ini juga dipertunjukan kepada alam dan yang tak kalah penting adalah dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tarian Bali ini juga menggambil salah satu pelajaran hidup lokal yang sering disebut dengan Tri Hita Karana. Hubungan harmonis ini adalah, hubungan manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam atau lingkungan. Satyam, siwam dan sundaram adalah tiga Sifat Tuhan. Itu diartikan sebagai Satyam (kebenaran), Siwam (kesucian), Sundaram (keharmonisan, keindahan).


Tari Legong Kraton (Lasem)


Salah satu jenis tari legong adalah Tari Legong Kraton ato ada juga yang menyebutnya denga Legong Lasem. Terdiri dari tiga penari satu sebagai condong dan dua orang sebagai lasem. Condong dengan mengenakan busana merah sedangkan lasem dengan hijau, terkadang juga ungu tua. Lasem juga dilengkapi dengan gelungan dan juga kipas. Saat keluar terakhir condong mengenakan sayak layaknya sang rajawali.

Tari legong merupakan tari klasik sehingga geraknya begitu kuat. Sangat terasa dari lirikan mata dan mimik muka yang sangat berkarakter. Pada kahir pertunjukan terjadi pertarungan antara condong dengan memakai sayap dan juga penari lasem.

Konon tarian ini pertama muncul dan dikembangkan di Sukawati dan dahulu hanya ditarikan di kalangan kerasaan sebagai hiburang orang-orang berkuasan di sana. Tetapi penari-penarinya dipilih dari kalangan rakyat yang pintar menari dan juga cantik tentunya. Belakangan tari legong ini bisa disaksikan di pementasan seni di mana saja.

m book 29 - ngalih insfirasi

Yup... Puji syukur kepada Tuhan atas anugerahNya. Kesehatan dan kesempatan selalu bisa motret adalah hal yang tidak bisa dibilang lagi kehebatan, harta yang diberikan.

Ini adalah kumpulan foto-foto tentang saya yang dipotret oleh teman-teman dan diunggah di jejaring sosial Facebook. Foto-foto yang sangat menarik dan juga menggambarkan sedikit perjalanan motret saya. Hal-hal yang berhubungan dengan tempat motret khususnya budaya Bali. Beberapa foto saya unduh dan ditampilkan dalam buku ini. Akan lebih mudah saya menikmati, mungkin dengan cara melihat pada buku daripada di jejaring sosial. Salah satunya, kalau menikmati di internet tentunya saya memerlukan setidaknya menyalakan komputer ataupun handphone dan perlu jaringan intenet. Sangat mudah dilihat di buku tanpa memerlukan itu semua. Foto-foto yang sangat menarik dan sangat berharga bagi saya tentunya. Ini merupakan sebuah memori bagi saya sendiri nantinya.

Tentunya ucapan terima kasih saya ucapkan kepada semua teman yang pernah motret sayan dan dibagikan di jejaring sosial facebook. Tanpa bermaksud lain buku ini hanya untuk kesenangan saya saja. Beberapa ada keterangan fotonya dan juga ada yang tidak, itu karena saya lupa, saat unduh foto juga tidak ditulikan keterangannya yang jadi membingungkan juga.

Buku foto ini sekarang sudah memasuki edisi ke 29, Februari 2015. Dan sampai jumpa di karya-karya selanjutnya. Sekian singkat dari apa yang saya utarakan.

Mohon maaf jika ada kesalahan yang tentunya tidak disengaja. Saran dan masukannya tentunya diharapkan demi perbaikan dikemudian hari. Terima kasih atas semuanya dalam pembuatan buku galeri foto ini yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
Nyoman Martawan

Pertunjukan Barongsai

Yup... Pertunjukan, Wushu, baongsai, naga, tari lampion di Wihara Satya Dharma, Benoa, Bali pada 27 Februari 2015.











m book 28 - Pawai PKB 2006-2014

Yup... Terima kasih Tuhan atas anugerah dan sinar suciMu selama ini. Puji dan syukur selalu dipanjatkan dalam kehidupan ini.

Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu dilaksanakan setiap tahun dan pertama dimulai dari tahun 1979. PKB dengan istilah luarnya disebut dengan Bali Art Festival dilaksanakan dalam beberapa kegiatan salah satunya yang menarik adalah pawai budaya, biasanya dilaksanakan pada awal acara. Kegiatan PKB biasanya berlangsung selama sebulan penuh, mengambil jadwal saat liburan sekolah berlangsung dari bulan Juni sampai dengan Juli. Pertunjukan seni berlangsung sepanjang hari selama sebulan itu. Pentas dilaksanakan dalam empat sesi waktu yaitu pagi, siang, sore dan juga malam bertempat di Taman Budaya (Art Center). Di areal Taman Budaya terdapat beberapa tempat pertunjunkan dalam satu sesi biasanya diadakan beberapa pentas seni dalam waktu bersamaan.

Dalam pawai PKB ditampilkan parade kesenian dari masing-masing kabupaten yang ada di Bali dan juga seni budaya dari beberapa daerah di Indonesia bahkan dari luar negeri. Pawai biasanya dilaksanakan di arel jalan Niti Mandala Renon (seputaran Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi) atau seputaran Lapangan Puputan Badung. Dua tempat ini yang selalu digunakan dalam penyelenggaraan.

Dalam buku ini menampilkan beberapa foto-foto tentang pawai dalam sisi lain, bukan dalam pentas di panggung utama. Mulai dari tahun 2006 berturut-turut sampai tahun 2014. Kendala bagi masyarakat umum agak sedikit sulit medapatkan izin motret di areal panggung utama, setelah mencoba ngurus tanda pengenal. Termasuk juga saat pawai dikarenakan di panggung utama tempat para pejabat jadi tidak bisa leluasa untuk menonton. Biasanya pawai langsung dibuka oleh Presiden, dilaksanakan pada sore hari. Tapi tidak jadi masalah juga, walau foto yang ditampilkan adalah sebelum mereka pentas. Semua sangat menarik untuk difoto tentunya. Mulai dari busana, kreatifitas dan juga tampilan-tampilan seni budaya yang begitu unik berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya.

Selalu ada hal yang menarik dalam pawai untuk difoto. Beberapa kesenian luar daerah yang jarang kita saksikan tentunya menjadi sesuatu hal yang baru. Tidak kalah juga seni budaya Bali dari berbagai kabupaten/kota yang jarang dan tidak pernah kita tahu. Walau tidak dipungkiri beberapa juga ada penampilan yang berulang dari PKB sebelumnya.

Salah satu upaya yang dilaksanakan dalam melestarikan seni budaya dan sangat bermanfaat. Kesempatan bagi para seniman untuk menampilkan kreatifitas seni dan juga tak kalah penting merupakan hiburan bagi masyarakat sebagai penonton dan gratis pula.
Mohon maaf jika ada kesalahan yang tentunya tidak disengaja. Saran dan masukannya tentunya diharapkan demi perbaikan dikemudian hari. Terima kasih atas semuanya dalam pembuatan buku galeri foto ini.
Foto dan tek oleh Nyoman Martawan


Suasana di Tegalalang, Gianyar

Yup... Suasana pedesaan Tegalalang, Gianyar di Bali pada 25 Februari 2015. Tampak bentangan terasering sawah yang begitu indah. Warga melaksanakan persembahyangan di pura. Usai bersembahyang juga beberapa nampak menikmati bubur Bali (bubuh letok) yang di beli mereka di luar pura.











Patung Sakah

Yup... Warga melaksanakan persembahyangan seputaran patung bayi, Sakah, Gianyar di Bali pada 25 Februari 2015.



Pura Gunung Kawi Bali

Yup... Pura Gunung Kawi di Bali pada 25 Februari 2015.









Tradisi Nuuh di Sebatu

Yup... Yup... Tradisi nuuh pedanan-dananyang dilaksanakan di Sebatu, Bali paada tanggal 25 Februari 2015. Banten sok mulai memenuhi pura puseh saat mulai sore dan cuaca cerah ini. Ibu-ibu membawa banten sok ini datang dari semua rumah yang ada di desa. Ibu-ibu ke pura ini diisi tanda dengan bunyi kulkul di desa. Setelah semua warga berkumpul di pura dan sok banten mulai ditaruh dengan rapi di halaman pura. Terlihat juga asagan yang berisikan jaja lempeng, sejenis jaja uli. Ritual pun segera dimulai, setelah persembahyangan oleh warga selesai seorang wali nuuh mendekati asagan yang ada di tengah-tengah sambil mengucapkan mantera dan membawa pecut yang terbuat dari lidi. Beberapa orang mulai mengangkat asagan tersebut untuk dibawa keluar pura mengikuti wali nuuh. Di luar pura sudah berkumpul masyarakat dan anak-anak yang bertelanjang dada siap merebut isi asagan. Teriakan-teriakan heroik semangat anak diluar menanti saat hujang berlangsung. Wali nuuh pun memecutkan lidi saat anak-anak merebut isi asagan. Dan acara pun selesai.











Pentas Seni Anak

Yup... Menyaksikan pentas tari anak-anak di Denpasar, Bali pada 22 Februari 2015.



Tari Pendet

Para penari berpakian cukup unik. Dengan hiasan bunga dan emas di rambut serta membawa nampan kecil yang berisi rangkaian janur dengan isi beraneka bunga. Dari segi pakaian ini masik terlihat gadis Bali zaman dahulu. Masih mneggunakan sabuk dan pundak masih belum tertutup oleh pakaian hanya sabuk yang diselempangkan di salah satu pundaknya. Beberapa daerah menggunakan busana agak berbeda mulai dari prada emas yang masik minim dan juga full prada.

Tarian ini dibawakan gadis-gadis dengan lembah gemulai. Tarian penyambutan tamu ini tidak begitu beringas, tapi sangat sayu penuh dengan senyum. Pada saat berdiri maupun bersimpuh sesekali mengedipkan mata dan melemparkan bunga-bunga yang dibawakanya. Pada masanya sekarang tidak hanya para remaja yang menarikan Tari Pendet ini tetapi tidak kalah anak-anak dan para ibu-ibu juga berperan aktif. Tarian diiringi dengan tabuh gong yang agak lambat.

Tarii ini biasa tampil saat para tamu mulai berdatangan. Kerap kali tarian ini ditampilkan untuk menyambut tamu penting dan juga yang bergerak di pariwisata akan sering menjumpai tarian ini. Tak dipungkiri kelestarian ini juga didukung seringnya tampil saat acara-acara besar yang bersifat internasional ada di Bali. Tapi tidak hanya hal tersebut, kesenangan dan kecintaan warga untuk tetap belajar dari kecil sebagai salah satu upaya melestarikannya.

Konon tarian ini terinsfirasi dari Tari Pendet yang sering ditarikan di pura-pura. Tarian sakral ini memang ada sejak dahulu. Biasanya tarian pendet di pura ditarikan secara idak sadar (kesurupan). Diperlukan beberapa upakara ataupun sesajen sebelum tarian dimulai. Terkadang mereka langsung sentak bisa menari walaupun keseharianya tidak pernah menari. Inspirai ini membuat dibuatkan tari pendet untuk pertunjukan.


Gender


Tari Baris Tunggal

Terlihat dari awal yang dikenakan adalah busana keprajuritan. Badong, Lamak juga mahkota krucut tidak lupa terselip sebuah keris di punggung. Busana yang penuh dari kepala sampai kaki lebih menggambarkan prajurit yang siap berperang dan penuh dengan perlindungan badan. busana dasar putih dan dilapisi beberapa asesoris lain pembungkus tubuh.

Gerak tari ini sangat enerjik layak seorang prajurit gagah perkasa. Gerak memutar tubuh, tangan yang selalu sigap, dan juga likikan matn yang selalu tajam menatap ke segala arah. Bahu naik dan beberapa kali dada diusungkan ke depan.

Baris tunggal terbiasa ditarikan saat pertunjukan tidak jarang pula saat upacara ngaben (kematian) tarian ini selalu ada. Tarian ini ditampilakn semabai penghormatan kepada orang yang telah meninggal atau leluhur. Saat dipertunjukan dlam pentas seni juga tarian ini sebagai balih-balihan atau tontonan hiburan bagi masyarakat.





Tari Merak Angelo

Burung Merak menginspirasi tarian ini. Terlihat busana yang dikenakan mirip dengan burung merak. Mulai dari mahkota yang berisi kepala merak dan beberapa bulu terselip di belakang mahkota. Pakaian yang dikenakan juga mirip, dari corak warna juga ada motif ekor merak di kain belakang layaknya ekor indah merak yang seddang berdiri.

Pada saat pertama keluar pentas seakan penari datang mematuk penonton. Selanjutnya kelihatan suasana penari mulai bergaya penari Bali lainnya. Yang paling menarik saat para penari memainkan ekornya begitu indah dan sangat menarik. Seakan ingin memamerkan ekornya yang begitu indah, terlihat juga saat penari memblakangi penonton dan mengibas-ibaskan kain ekornya. Gerakan ke kiri dan ke kanan sperti burung sedang bermain juga kerap kali ditampilkan.

Pertunjukan tari ini sering dibawakan saat pentas seni-seni di Bali. Terutama saat pentas tari-tarian Bali sebagai hiburan warga-warga baik di desa maupun kota, kelulusan siswa dan hiburan selingan upacara keagamaan.


Tari Kreasi



Tari Cendrawasih

Penari Cendrawasih berbusana layaknya mengikuti keindahan dari burung cendrawasih. Biasanya dengan ekor berwasna kuning. Memakai mahkota (gelungan) dengan berbentuk burung, kepala menghadap depan dan sayapnya terhempak ke samping. Penari juga mengenakan gelang yang melekat di kedua lengan dan pergelangan tangan.

Gerak tari mengikuti burung cendrawasih, yang mungkin banyak terdapat di daerah Indonesia timur seperti di Papua dan sekitarnya. Penarinya biasanya gadis-gadis yang berpasangan. Gerak terkadang melakukan lompatan-lompatan kecil dan memamerkan ekornya. Terihat dari tarian ini mereka layaknya burung yang saling bercanda, merpindah dari dahan ke ranting dan mereka sangat menikmati keindahan alam bersama teman dan pasanganya.

Tari Cendrawasih bisanya dipentaskan saat acara-acara tertentu sebagi tontonan kepada warga. Terlihat dibawakan saat pesta kenaikan kelas, pentas seni tari dan beberapa acara lain untuk memberikan tontonan.




Tari Panji Semirang

Tari Bali ini identik dengan busana yang cukup menarik dan unik. Terlihat membawa asesoris kipas, mengenakan mahkota semacam udeng dan kain dengan kancutan di pinggiran kiri. Kegagahan tarian putri ini terlihat dari badong yang dikenakan. Di zaman sekarang busana kebanyakan mengenakan prada layaknya emas berkilauan dan dikombinasi dengan pernak-pernik kaca cermin kecil-kecil agar tampak mencolok dan berkilauan.

Gerak tari sangat energik seorang wanita yang bertingkah layaknya pria yang gagah perkasa dan sering diistilahkan dengan tarian bebancihan, yaitu wanita yang kuat dan gagah perkasa tetapi juga gerak gemulai dan kelembutanya tidak bisa disembunyikan dan jika dilihat dengan teliti akan nampak jelas. Tarian ini juga identik dengan tatapan mata yang tajam, selalu melirik ke segala arah. Kesigapan dan kewaspadaan terpancar jelas. Permainan kipas juga lebih sederhana dari tarian Bali lain yang menggunakan asesoris kipas. Hanya terlihat penari lebih banyak bergaya dengan kuda-kuda yang kuat dan sesekali memainkan kain yang berada di sebelah kiri dan bergerak memutar.

Panji Semirang biasa ditampilkan dalam acara-acara pertunjukan seni. Biasanya lebih ditampilkan dalam seni hiburan kepada warga. Dewasa ini tari-tari kekebyaran juga digalakan kepada generasi muda untuk tetap melestarikan budaya khususnya dalam seni tari yang juga diiringi dengan seni tetabuahn atau musik Bali.

Tari ini mengambil cerita seorang gadis yang bernama Galuh Candra Kirana dalam perjalanan mencari kekasihnya yang bernama Raden Panji Inu Kertapati. Lika-liku perjalanan digambarkan dalam gerak tarian ini. Penyamaran Galuh Candra Kirana memerankan sorang pria dengan nama Raden Panji. Mengambil cerita di kerajaan Kediri dan Kerajaan Jenggala. Kisah cinta yang tidak mulus karena di antara mereka juga ada cinta seorang Galuh Liku yang juga nekat melaukan apa saja demi cinta.

Parade Dokar

Yup... Dokar-dokar memasuki jalan depan Museum Bali dalam Parade Dokar Denpasar di Bali pada 22 Februari 2015.





Buntilan Khas pada Ngusaba Dodol

Yup... Warga mulai berdatangan ke Pura Dalem Selat untuk melaksanakan persembahyangan dalam upacara Ngusaba Dodol di Bali pada 19 Februari 2015. Yang unik adalah buntilan dan banten sokan saat ngusaba ini.