Langsung ke konten utama

Tajen 42 Hari

Yup... Tradisi yang unik ada di Pura Hyang Api, Desa Klusa, Gianyar. Para bebotoh (orang yang suka ngadu ayam) mulai berdatangan dari pagi ke pura. Ayam jago pilihan dibawa untuk segera di adu. Hari Kamis, 16 Februari 2012 ini merupakan tajen yang diselenggarakan untuk kesekian kalinya. Tajen dilaksanakan selama 42 hari terhitung mulai dari Hari Kuning selama lima hari berturut-turut dan selanjutnya diadakan setiap Kliwon.

Beberapa bebotoh datang dari segala penjuru daerah di Bali. Sesampainya mereka di pura tak lupa mereka menghaturkan bakti sebelum melaksanakan tajen. Dari pagi hari setelah kulkul (kentungan) dibunyikan bertanda tejen sudah bisa dimulai, bebotoh pun mengeluarkan ayamnya dan mencari lawan yang seimbang. Setelah merasa cocok ayam pun dipasangi taji selanjutnya diadu.

Tajen alias adu ayam berlangsung tidak hanya satu grup tetapi banyak grup-grup kecil saling beradu. Gemuruh sorakan para bebotoh terdengar "cok..cok...cok... gasal..gasal..gasal". Ayam yang sudah kalah langsung dipotong dan dibagikan baik kepada pemenang maupun kepemilik ayam sesuai dengan kesepakatan.

Setelah hari semakin siang suasana pura semakin sepi, karena bebotoh sudah berangsur pulang. Sebelumnya mereka juga singgah di warung yang berjejer di sepanjang jalan samping pura.


Tajen berlangsung dar pagi hari, beberapa bebotoh mengadu ayam mereka.


Tajen, pertarungan seru antar dua ayam yang sudah dipasangi taji. Pemasang taji adalah orang khusus yang dibayar oleh pemilik ayam berkisar Rp 10.000


Bebotoh yang mengeluarkan ayamnya dan siap untuk mengadunya.


Pedagang obat tradisional Bali di luar pura.


Bebotoh sedang mencari lawan ayam yang seimbang.


Ayam yang sudah dipasang taji, siap diadu.


Bebotoh yang menghaturkan bakti.


Menghitung duit hasil adu ayam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ray peni - gelas di lemari

gelas di lemari
ray peni


suryanē ngendih asibak ditu duur langitē
mekada samar-samar cingak beli ragan adi
sekadi mejalan sandikalanē
saru muan adinē to mekada keneh belinē ragu

yan tolih uli kenyeman adinē tusing tulus
rasayang adi suba ada anē ngelahang
kēwala sing taēn adi nyambatang
beli merasa-rasa adi ngangon adi pecadang kuang

reff***
to nguda adi dadi hati
naduang tresna kaping beli
tumuli dēwēk beli sekadi gelas di lemari
yēn kuangan ditu mara iya kesisi

(duduu.. wo ho dududu... yehe)

oh my lovelyevery nihgt when i sleep, u always came in my dream
i treat remmember with u prommise
u ever say that u love, you heart and u soul just for me
exe me excetid
but now why...why... why keep u love u numb men
why you forget with you prommise
what is my wrong u make a broake my heart baby
i hate u i hate you never know all i love u

(ampurayang yening pelih)

Mabiasa di Bukit Gumang

Yup... Mabiasa yang dilaksanakan di puncak Bukit Gumang, Karangasem, Bali. Tradisi ini berlangsung dalam upacara Ngusaba Gumang dilaksanakan masyarakat di seputaran daerah tersebut seperti, Bugbug, Jasri, Bebandem dan Ngis Manggis. Menjelang sore hari masyarakat mulai memadati untuk naik ke Bukit Gumang. Mereka biasanya membawa haturan berupa babi guling, mereka yang mempunyai anak kecil. Dengan pemandangan yang sangat indah dari atas bukit, jempana-jempana dari masing-masing desa mulai naik bukit satu per satu. Setelah semua berkumpul di atas, acara berlangsung. Beberapa jempana (tandu) mulai diadu dan terjadi saling dorong. Setelah beberapa saat acara selesai, jempana-jempana pun diletakan di panggungan di tengah areal yang disediakan.


Jempana-jempana mulai menaiki bukit ketika suasana mulai sore.


Masyarakat yang berduyun-duyun naik ke bukit untuk melaksanakan persembahyangan.


Terliha di kejauhan jempana-jempana dari desa mulai naik ke bukit.


Perang jempana dimulai saat suasana huja…

Mitos yang Menjadi Kearifan Lokal Bali

Yup... Begitu banyak mitos yang sudah menjadi kearifan lokal di Bali. Tentunya beberapa daerah di Bali memilikinya, begitu banyak, berbeda tapi memiliki kemiripan di beberapa sisinya. Ini sangat dipercaya sebagai acuan untuk berbuat agar perjalanan kehidupan bisa lancar tanpa halangan. Juga lebih bersifat memberikan keuntungan dan kemujuran bagi yang mau taat melakukanya, menghidarkan diri dari malapetaka.



Enta karena kurangnya wawasan mengenai mitos ini, kebanyakan orang enggan untuk mempercayainya kalau belum mereka mengalaminya sendiri. Semisal kesakitan menahun atau sebagainya dan dapat disembuhkan dengan cara yang tidak masuk akal. Atau karena memang ketidaktahuan.



Banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan menjadikan mitos ini mulai terkubur. Mereka yang merasa diri lebih moderen menganggap itu sebagai hal yang kuno dan tidak ada nilai kebenarannya. Tapi bukankah sebaliknya pendidikan sebenarnya yang harusnya memecahkan hal ini secara ilmiah. Bukan malah memojokkan hal yang …