Langsung ke konten utama

Pentas Tarian Bali

Yup... Pentas seni tari Bali anak-anak di Bali pada 17 Mei 2014. Menampilkan Tari Wirayudha, Tari Condong dan Tari Cilinaya.





Tari Wirayuda

Busana yang digunakan oleh penari Wirayuda adalah busana seorang prajurit yang sedang latihan perang. Tarian ini dibawakan oleh laki-laki dengan membawa senjata tombak. Biasanya ditarikan secara berkelompok antara duan atau lebih pasang penari.

Tari Wirayuda mengisahkan kepahlawanan, patriot yang siap membela bangsa. Tarian yang terinsfirasi oleh tarian-tarian Baris yang sudah ada sebelumnya seperti Bari Baris Gede, Baris Tumbak dann juga Baris Katekok Jago. Tari inu terlihat menarik ketika para penari saling meengadu tombak sesama penari lainnya.





Tari Condong

Tari Condong merupakan tarian Bali yang biasanya menggunakan busana serba merah daengan hiasan prada emas. Dengan memakai mahkota (gelugan) seperti seorang putri. Tari ini dimainkan oleh seorang atau sekelompok gadis.

Tari ini merupakan bagian Tari Legong Kraton (lasem). Mengisahkan para bidadari yang sangat gemar menari dengan gerak tubuh yang lemah gemulai. Tarian ini sangat menarik untuk disaksikan, para penari bergerak sangat lentur baik saat mereka dengan agem (gerak) berdiri ataupun saat bersimpuh.





Tari Cilinaya

Tari Ciliniaya ditarikan oleh gadis-gadis dengan menggunakan busana Bali yang khas. Indentik dengan mengenakan gelungan (mahkota) dengan bentik menyerupai cili. Cili merupakan bentuk sesajen upakara yang digunakan sembahyang oleh umat Hindu.

Tari ini ditarikan dengan lembah gemulai dan penuh keceriaan. Gadis-gadis yang cantik menarikan dengan gerakan-gerakan tari-tari yang sudah tidak asing lagi. Lentik jemari, tatapan dan lirik mata juga kuatnya kaki sehingga menjadikan tarian ini terlihat menarik dan sempurna.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

ray peni - gelas di lemari

gelas di lemari
ray peni


suryanē ngendih asibak ditu duur langitē
mekada samar-samar cingak beli ragan adi
sekadi mejalan sandikalanē
saru muan adinē to mekada keneh belinē ragu

yan tolih uli kenyeman adinē tusing tulus
rasayang adi suba ada anē ngelahang
kēwala sing taēn adi nyambatang
beli merasa-rasa adi ngangon adi pecadang kuang

reff***
to nguda adi dadi hati
naduang tresna kaping beli
tumuli dēwēk beli sekadi gelas di lemari
yēn kuangan ditu mara iya kesisi

(duduu.. wo ho dududu... yehe)

oh my lovelyevery nihgt when i sleep, u always came in my dream
i treat remmember with u prommise
u ever say that u love, you heart and u soul just for me
exe me excetid
but now why...why... why keep u love u numb men
why you forget with you prommise
what is my wrong u make a broake my heart baby
i hate u i hate you never know all i love u

(ampurayang yening pelih)

Mabiasa di Bukit Gumang

Yup... Mabiasa yang dilaksanakan di puncak Bukit Gumang, Karangasem, Bali. Tradisi ini berlangsung dalam upacara Ngusaba Gumang dilaksanakan masyarakat di seputaran daerah tersebut seperti, Bugbug, Jasri, Bebandem dan Ngis Manggis. Menjelang sore hari masyarakat mulai memadati untuk naik ke Bukit Gumang. Mereka biasanya membawa haturan berupa babi guling, mereka yang mempunyai anak kecil. Dengan pemandangan yang sangat indah dari atas bukit, jempana-jempana dari masing-masing desa mulai naik bukit satu per satu. Setelah semua berkumpul di atas, acara berlangsung. Beberapa jempana (tandu) mulai diadu dan terjadi saling dorong. Setelah beberapa saat acara selesai, jempana-jempana pun diletakan di panggungan di tengah areal yang disediakan.


Jempana-jempana mulai menaiki bukit ketika suasana mulai sore.


Masyarakat yang berduyun-duyun naik ke bukit untuk melaksanakan persembahyangan.


Terliha di kejauhan jempana-jempana dari desa mulai naik ke bukit.


Perang jempana dimulai saat suasana huja…

Mitos yang Menjadi Kearifan Lokal Bali

Yup... Begitu banyak mitos yang sudah menjadi kearifan lokal di Bali. Tentunya beberapa daerah di Bali memilikinya, begitu banyak, berbeda tapi memiliki kemiripan di beberapa sisinya. Ini sangat dipercaya sebagai acuan untuk berbuat agar perjalanan kehidupan bisa lancar tanpa halangan. Juga lebih bersifat memberikan keuntungan dan kemujuran bagi yang mau taat melakukanya, menghidarkan diri dari malapetaka.



Enta karena kurangnya wawasan mengenai mitos ini, kebanyakan orang enggan untuk mempercayainya kalau belum mereka mengalaminya sendiri. Semisal kesakitan menahun atau sebagainya dan dapat disembuhkan dengan cara yang tidak masuk akal. Atau karena memang ketidaktahuan.



Banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan menjadikan mitos ini mulai terkubur. Mereka yang merasa diri lebih moderen menganggap itu sebagai hal yang kuno dan tidak ada nilai kebenarannya. Tapi bukankah sebaliknya pendidikan sebenarnya yang harusnya memecahkan hal ini secara ilmiah. Bukan malah memojokkan hal yang …