Langsung ke konten utama

Birunya Langit di Pantai Kusamaba

Yup... Pantai Kusamba yang berada di Kabupaten Klungkung ini memang memberikan kesegaranya untuk siapa saja yang berkunjung ke sana. Pantai Kusamba memang populer dengan pembuatan garam yang ada di pulau dewata ini. Nelayan adalah mata pencaharian masyarakat setempat selain juga banyak bergerak di bidang-bidang lain. Pada siang ini (08/03) sausana sangat cerah, langit biru begitu juga lautnya. Terlihat banyak orang sedang memacing, mencari batu sikat dan aktivitas pantai pada umumnya. Dari pantai ini penyebrangan ke Nusa Penida juga berlangsung dari beberapa tempat di sepanjang pantai. Saudagar-saudagar dari Nusa Penida biasanya menaikan barang dagangannya dari pantai ini, terkadang saudagar besar mencarter perahu karena barang yang telah dibelinya banyak yang muat satu perahu.


Indahnya pemandangan di Pantai Kusamba, Klungkung ini dengan hamparan langit dan lautnya yang berwarna biru.


Deretan rumah untuk proses pembuatan garam.


Masyarakat yang sedang mencari batu sikat.


Banyaknya pancing yang dipajang dengan harapan mendapatkan banyak ikan, tapi biarpun tidak dapat ikan yaa.... namanya juga hobi.


Deretan perahu yang parkir di pinggir Pantai Kusamba.


Penumpang hendak naik ke perahu tentunya dengan barang bawaanya meliputi sembako dan barang dagangan lainya.


Perahu segera akan dilepaskan ikatanya.... satu orang lawan satu perahu.... kira kira yang menang siapa ya?


Para pengantar yang melihat rekan atau keluarganya pergi ke Nusa Penida... bye..... see u again!!!!


hati-hati ombak besar.... terlihat di bawah tergantung besi di pohon yang digunakan untuk lonceng memanggil penumpang agar segera naik ke kapal


Seorang kakek yang asik memunguti dan memilah batu sikat yang katanya dari jam 12 siang ini memunguti batu sikat dengan harga satu ember hitam tersebut Rp 8000 (delapan ribu rupiah) seharian paling dapat satu sampai dua ember.


Palung pembuatan garam, semuanya pada ditutup katanya tadi pagi terguyur hujan. Biasanya palungan ini terbuka dan dijemurkan di terik matahari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ray peni - gelas di lemari

gelas di lemari
ray peni


suryanē ngendih asibak ditu duur langitē
mekada samar-samar cingak beli ragan adi
sekadi mejalan sandikalanē
saru muan adinē to mekada keneh belinē ragu

yan tolih uli kenyeman adinē tusing tulus
rasayang adi suba ada anē ngelahang
kēwala sing taēn adi nyambatang
beli merasa-rasa adi ngangon adi pecadang kuang

reff***
to nguda adi dadi hati
naduang tresna kaping beli
tumuli dēwēk beli sekadi gelas di lemari
yēn kuangan ditu mara iya kesisi

(duduu.. wo ho dududu... yehe)

oh my lovelyevery nihgt when i sleep, u always came in my dream
i treat remmember with u prommise
u ever say that u love, you heart and u soul just for me
exe me excetid
but now why...why... why keep u love u numb men
why you forget with you prommise
what is my wrong u make a broake my heart baby
i hate u i hate you never know all i love u

(ampurayang yening pelih)

Mabiasa di Bukit Gumang

Yup... Mabiasa yang dilaksanakan di puncak Bukit Gumang, Karangasem, Bali. Tradisi ini berlangsung dalam upacara Ngusaba Gumang dilaksanakan masyarakat di seputaran daerah tersebut seperti, Bugbug, Jasri, Bebandem dan Ngis Manggis. Menjelang sore hari masyarakat mulai memadati untuk naik ke Bukit Gumang. Mereka biasanya membawa haturan berupa babi guling, mereka yang mempunyai anak kecil. Dengan pemandangan yang sangat indah dari atas bukit, jempana-jempana dari masing-masing desa mulai naik bukit satu per satu. Setelah semua berkumpul di atas, acara berlangsung. Beberapa jempana (tandu) mulai diadu dan terjadi saling dorong. Setelah beberapa saat acara selesai, jempana-jempana pun diletakan di panggungan di tengah areal yang disediakan.


Jempana-jempana mulai menaiki bukit ketika suasana mulai sore.


Masyarakat yang berduyun-duyun naik ke bukit untuk melaksanakan persembahyangan.


Terliha di kejauhan jempana-jempana dari desa mulai naik ke bukit.


Perang jempana dimulai saat suasana huja…

Mitos yang Menjadi Kearifan Lokal Bali

Yup... Begitu banyak mitos yang sudah menjadi kearifan lokal di Bali. Tentunya beberapa daerah di Bali memilikinya, begitu banyak, berbeda tapi memiliki kemiripan di beberapa sisinya. Ini sangat dipercaya sebagai acuan untuk berbuat agar perjalanan kehidupan bisa lancar tanpa halangan. Juga lebih bersifat memberikan keuntungan dan kemujuran bagi yang mau taat melakukanya, menghidarkan diri dari malapetaka.



Enta karena kurangnya wawasan mengenai mitos ini, kebanyakan orang enggan untuk mempercayainya kalau belum mereka mengalaminya sendiri. Semisal kesakitan menahun atau sebagainya dan dapat disembuhkan dengan cara yang tidak masuk akal. Atau karena memang ketidaktahuan.



Banyak orang yang beranggapan bahwa pendidikan menjadikan mitos ini mulai terkubur. Mereka yang merasa diri lebih moderen menganggap itu sebagai hal yang kuno dan tidak ada nilai kebenarannya. Tapi bukankah sebaliknya pendidikan sebenarnya yang harusnya memecahkan hal ini secara ilmiah. Bukan malah memojokkan hal yang …